Mendaki Gunung Ceremai (3078 mdpl)

Tim

Pengalaman pertama begitu menggoda. Seru juga kalau ngingat2 istilah ini. Anyway…. pas banget ni kalau bicara soal pengalaman pertama. Saya punya sedikit cerita, mudah2an tulisan ini bisa menjadi informasi berguna bagi temen2 bloger yang berminat. Dua minggu yang lalu saya melakukan pendakian di salah satu gunung yang ada di Jawa Barat. Tujuannya waktu itu adalah Gunung Ceremai  atau yang keseringan disebut Ciremai. Lumayan menantang, seru, berkesan, dan ekstrim (ga kebayang lagi kalau lebih ekstrim, kaya para expert tu, masa tanjakan gitu dipake buat balapan).

Waktu naik awalnya sempat terpikir untuk menyerah…. Tapi dengan paru2 terbatas a.k.a engos-engosan Alhamdulillah nyampe di puncak dan turun lagi dengan selamat. yang jelas jika anda ingin mendaki gunung, apalagi buat “amatiran” seperti saya siap2 aja buat pusing, mual, keringat dingin, plus rasa ngilu di persendian. ( Jadi pengen berhenti ngerokok gini……).

Jika dilihat dari sisi ketinggian, mungkin Gunung Ceremai belum ada apa2nya dibandingkan gunung2 besar lainnya seperti Gunung Kerinci di Sumatera Barat (3800 mdpl), Gunung Rinjani di Lombok (3726 mdpl), Gunung Semeru di Jawa Timur (3676 mdpl), atau mbahnya gunung indonesia yaitu Gunung Wetar di Maluku (5282 mdpl). Enaknya jalur pendakian Gunung Ceremai sudah jelas dan cukup terang, ditambah dengan adanya bekas2 tanda yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya seperti ikatan tali, jejak, sampah, sampai ke plastik/botol yang berisi air urin (beberapa pendaki menganut kepercayaan lebih baik menaruh urin dengan cara seperti itu daripada langsung ke tanah). Namun walaupun demikian, pilihan dalam memilih track tetap menjadi perhatian utama karena bisa memperlebar kemungkinan tersesat.

Puncak

Ngobrol soal jalur pendakian Gunung Ceremai, anda bisa mencapai puncak melalui 3 pilihan jalur. Jalur2 tersebut yaitu:

1. Linggarjati (timur)

Jalur ini dikenal dengan medannya yang berat. Dibanding dua jalur lainnya, Jalur Linggarjati merupakan jalur tersulit. Jalur Linggarjati terkenal terjal dan curam dengan sudut kemiringan antara 70 sampai 80 derajat. Selain terjal tikungan jalur ini juga menambah kesan misteri Gunung Ceremai. Perjalanan ke Gunung Ceremai melalui jalur Linggarjati dapat dimulai dari terminal Cirebon, dari terminal kita naik bus menuju Kuningan dan turun di Cilimus. Dari Cilimus kita sambung dengan kendaraan colt atau ojek ke desa Linggarjati. Untuk mencapai puncak dibutuhkan waktu antara 12 sampai 16 jam tergantung kecepatan pendaki dengan ketinggian awal 750 mdpl. Berdasarkan referensi, bagi pemula disarankan untuk tidak memilih jalur ini.

 2. Apuy (barat).

Menurut saya Jalur Apuy kedua terberat setelah Linggarjati. Karakter jalur yang banyak melewati lintasan air sehingga memiliki banyak jalan2 sempit menambah serunya pendakian/turun Gunung Ceremai. Dari pos terakhir dekat pucak yaitu Pos Gua Walet, kita bisa mencapai desa di kaki gunung dalam waktu 5-6 jam dengan kecepatan normal. Jika anda memilih untuk naik dari jalur ini, silahkan capai terminal Maja dulu (Kabupaten Majalengka), dari terminal ini akan terdapat banyak mobil2 Pickup yang dapat membawa anda ke Apuy. Ongkosnya pun ga mahal, Cuma Rp. 5000. Satu kekurangan Jalur ini, yaitu jarak dari pos penjagaan/petugas ke pos pertama sebelum menaiki gunung cukup jauh. Dari lokasi pelaporan ke pos pertama (gerbang) anda akan melewati ladang dan kebun2 milik masyarakat terlebih dahulu. Mungkin untuk proses pendakian hal ini tidak terlalu jadi masalah, tapi sewaktu turun hal ini akan memberikan efek depresi karena perasaan senang sewaktu mencapai pos terbawah akan tiba2 lenyap ketika harus mendapati perjalanan tambahan menuju akses transportasi umum, ditambah lagi dengan kondisi fisik yang sudah lelah. Bagi yang ingin latihan biar pikiran positifnya naik level, silahkan pilih jalur ini, terutama waktu turun.

3. Palutungan (selatan)

Kebetulan kami naik dari Jalur Palutungan, waktu itu dari bandung perjalanan dimulai menuju Temrinal  Caheum dulu. Dari terminal terus naik bus Sahabat tujuan Kota Cirebon. Pilihan moda ini bisa AC bisa Ekonomi. Jika anda lebih prefer murah, bis ekonominya lumayan bagus kok, mungkin kalau dibilang lebih cocok disebut kelas bisnis. Walaupun masih banyak pedagangan asongan turun naik, tapi itu tidak jadi masalah karena pada umumnya mereka tidak memaksa. Kondisi di dalam bus sendiri bersih dengan formasi kursi 2-3. Kebetulan kali ini dapat bus yang sepi penumpang, jadi 3 kursi bisa dipake buat sendiri. Sesampai di Terminal Cirebon, perjalanan dilanjutkan dengan naik Elv jurusan Kuningan, dari Kuningan lanjut naik angkot ke Palutungan. Angkot ini akan menurunkan anda tepat di depan pos penjagaan Palutungan. Waktu itu bangunannya baru direnovasi dan belum ada orang. Di sebelah pos ada warung, untuk proses pelaporan silahkan tanya saja di warung tersebut.

Ada 8 pos yang dilewati. Cigowong, Kuta, Pangguyangan Badak, Arban, Tanjakan Asoy, Pasanggrahan, Sanghiyang Ropoh, Goa Walet. Dari pos penjagaan ke gerbang pertama anda akan melewati kebun2 masyarakat dengan lama perjalanan sekitar 15 menit. Setelah itu tidak ada lagi kebun karena sudah memasuki area gunung. Pos Cigowong, merupakan pos pertama sekaligus pos terakhir yang memiliki air. Jika waktu sudah terlalu sore, disarankan untuk mendirikan tenda saja dan melanjutkan perjalanan esok paginya. Pedakian dari Pos Cigowong sampai Pos Goa Walet (pos terakhir sebelum puncak) akan ditempuh dalam waktu sekitar 6-8 jam. Sewaktu pendakian anda akan melewati Tanjakan Asoy. Seperti namanya, jalur ini benar-benar assoy, tanjakannya menggila, liar, buas, tak berujung. Kondisi jalur cukup jelas, bervariasi terkadang cukup lebar, kadang menyempit. Dihiasi oleh hutan yang merimbun dan heterogen. Dijamin engos-engosan. :D

Pos Goa Walet adalah pos terakhir sebelum puncak, jika ingin gampang anda bisa mendirikan tenda di pos ini dan menginap. Dari pos ini, puncak Gunung Ceremai dapat ditempuh dalam setengah jam. Oleh karena itu, jika tidak ingin melewatkan Sunrise, silahkan melanjutkan perjalanan sekitar jam 3-4 pagi.

Sebelum Pos Goa Walet anda akan menemukan persimpangan titik temu Jalur Apuy dengan Jalur Palutungan. Jika ingin bertualang lebih lanjut, tidak ada salahnya naik dan turun melewati jalur yang berbeda. IMHO.

This slideshow requires JavaScript.

Selamat mendaki. :)

Advertisement

7 thoughts on “Mendaki Gunung Ceremai (3078 mdpl)

  1. reiSHA says:

    Gunung2 di Indonesia kayaknya tracknya emang berat ya. Dibanding Mt. Fuji di sini, anak-anak sama kakek nenek bisa sampai ke puncaknya :P

  2. Evi says:

    Petualangan yg asyik Tomy..Gimana rasanya diatas puncak gunung ya, secara aku belum pernah melakukannya. Fotonya cantik nian…

    • tomy says:

      kebayar deh ni Evi, pikiran ke reset lagi pas nyampe dipuncaknya. tapi habis itu balik lagi….:p sekali2 ga ada salahnya mencoba kok Ni, apalagi ditambah sama fotografinya Uni, pasti jadinya keren banget. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s