Berawal dari Matabulu, Pesisir Sulawesi Utara
Jalan-jalan ala Backpacker telah menjadi trend di kalangan masyarakat sejak dulu, dan popularitas kegiatan ini semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya pilihan akses dan moda transportasi yang bisa disesuaikan dengan kocek. Dalam hal ini, biasanya para pelaku ingin menempuh perjalanan jauh tapi dengan biaya seminimal mungkin. Yang membuat kegiatan ini menarik adalah ketika pada akhirnya mereka tidak kalah gaul jika dibandingkan dengan para pelaku wisata biaya tinggi. Biasanya, sebagian besar pelaku backpacker skala lokal menujukan perjalannya ke daerah-daerah wisata favorit seperti Jogja, Bali dan Lombok, ditambah satu lagi pulau Belitong yang popularitasnya meningkat semenjak pemutaran film Laskar Pelangi. Ya memang itu tergantung kepada tujuan dari perjalanan itu sendiri. Ada yang melakukannya karena rasa penasaran, sebagai bentuk runaway dari kehidupan normal, dan ada juga karena benar2 ingin merasakan dan kenikmati keanekaragaman budaya. Singkatnya banyak alasan yang digandeng para pelaku backpacker untuk mengunjungi daerah (atau beberapa) tertentu dan itu relatif. Setidaknya itu yang saya temukan selama ini.
Berbicara tentang pilihan lokasi wisata, sebenarnya Indonesia masih memiliki ribuan lokasi lain yang relatif lebih bagus jika dibandingkan dengan lokasi-lokasi wisata populer di atas. Kenapa saya sebut relatif, itu kembali lagi ke alasan anda, apa yang ingin anda lihat? Kalau saya pribadi saat ini sedang tertarik untuk menikmati lokasi2 wisata (terkadang bukan) yang belum terlalu ramai dan cenderung alami.
Entah kenapa ketertarikan ini timbul semenjak perjalanan survey saya ke Sulawesi Utara September lalu. Saat itu, saya ditugaskan ke Sulawesi Utara dalam rangka survey pembuatan Peta RBI untuk BPN. Peta Rupabumi Indonesia (RBI) adalah peta topografi yang menampilkan sebagian unsur-unsur alam dan buatan manusia di wilayah NKRI. Di dalam peta ini terdapat tujuh unsur kenampakan, diantaranya Tutupan lahan, Hidrografi (Sungai, Laut, Danau), Hipsografi (Kemiringan), Bangunan, Transportasi dan Utilitas, Batas Administrasi, serta Toponimi (Segala sesuatu yang berhubungan dengan “nama”). Singkat kata, saya harus men-transfer kenyataan lapangan ketujuh unsur tersebut ke dalam bentuk peta digital.
Berkenala, itu kata yang tepat sebagai bentuk deskripsi pekerjaan ini. Karena selama survey saya harus mengidentifikasi ketujuh elemen tersebut di wilayah survey, khususnya wilayah bagian saya (ga mungkin satu provinsi disurvey sendirian #hammer). Otomatis perjalanan kesana dan kesini menjadi makanan sehari2 selama perkerjaan berlangsung. Selama itu lah saya menemukan keindahan-keindahan dan hal2 unik.
Hari itu, Senin 26 September 2011, hari-hari yang ditunggu datang juga. Saya beserta 2 orang tim sampai 4 lembar peta terkahir dari total 80 lembar peta yang disurvey. Lembar-lembar ini semuanya merupakan deretan wilayah pesisir Sulawesi Utara. Sesuai dengan yang saya harapkan, “Kerja dan wisata pantai”. Kami berangkat ke lokasi desa pertama yang berjarak 1,5 jam perjalanan dari kota tempat kami tinggal, Kota Kotamubagu. Ada 5 desa yang harus di survey dan semuanya di pinggir pantai. Sayangnya, yang kami temui di lapangan adalah kondisi dimana semua jaringan jalan penghubung desa-desa tersebut rusak dan tidak dapat dilewati karena longsor akibat air bah yang terjadi seminggu sebelumnya. Satu-satunya desa yang dapat ditempuh dengan kendaraan darat adalah desa pertama, bernama Matabulu. Oleh karena itu, satu-satunya cara agar kami bisa mengunjungi desa lainnya adalah dengan menggunakan jalur laut. Berhubung waktu sudah terlalu sore, tim akhirnya memutuskan untuk menginap sambil menunggu esok hari agar perjalanan bisa dimulai dari pagi. Kami menginap disebuah dermaga sekaligus rumah yang kebetulan milik seorang petinggi desa Matabulu.
Disinilah saya mengenal beberapa hal menarik. Berangkat dari bentang alam, karakter pesisir pantai yang berbukit-bukit serta air laut berwarna biru ditambah coral reef-nya yang membentang menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, di teluk Matabulu juga terdapat penangkaran karang mutiara. Uniknya hanya penangkaran, bukan pembesaran. Kata warga bibit tersebut akan diekspor ke Jepang. Pertanyaannya, Kenapa tidak sekalian dengan pembesaran? Community Capacity adalah jawabannya. Disimpulkan dari hasil percakapan dengan warga, Tenaga ahli, pelatihan, modal, dan pasar menjadi halangan utama bagi kegiatan ekonomi yang memiliki prospek besar ini. Ya….inilah indonesia. Sayang sekali saya tidak sempat ikut melihat dan merasakan proses pembibitan karang mutiara ini karna alasan waktu.

Titik-titik longsong akibat hujan besar selama 2 hari tanpa berhenti, bukit2 ini lah yang merupakan "Bukit Emas"
Emas, juga merupakan sebuah harta karun desa ini. Bukit-bukit dibelakang desa konon katanya adalah bukit dengan deposit emas tinggi. Hal ini sudah dibuktikan oleh tim-tim eksplorasi perusahaan tambang seperti Antam dan Newmont yang pernah datang kesini. Sesaat setelah mendengan pernyataan itu, saya terdiam dan miris. Sejenak saya membayangkan desa sebagus ini tidak akan berbeda nantinya dengan daerah yang sudah jadi korban perusahaan-perusahaan itu. Untungnya, sebuah kalimat penenang terucap “Coba saja, kami tidak takut bertindak diluar yang torang bayangkan buat pertahankan itu bukit, lagian melindungi alam juga toh?, sekarang jo longsor su dimana-mana” ucap si petinggi. BAGUS!!!. Dan jangan sampai.
Dan masih banyak daya tarik lainnya yang mungkin belum bisa saya tuliskan disini, mudah-mudahan dilain waktu.
Puas, itu yang saya rasakan ketika meninggalkan desa kecil ini. Bagaimanapun perspektif setiap orang tentang kepuasan tetaplah berbeda-beda. Namun, Jika anda tertarik untuk melihat dan menikmati keindahan pesisir pantai berbukit dan masih asri, tidak ada salahnya mencoba lokasi yang mungkin dapat menjadi pilihan daerah tujuan backpacker-an ini.
Matabulu,
desa kecil di pinggir teluk dengan nama yang sama menjadi titik pertama yang memberi saya warna lebih dari perjalanan itu. Asri, tentram, dan berpasir putih. Desa ini lah yang memberi inspirasi menulis, desa ini lah yang membuat pikiran terlepas sejenak, desa ini lah yang membuat pucuk rasa bangga saya sebagai orang Indonesia semakin membesar. Berawal dari Pesisir Selatan, Desa Matabulu, Sulawesi Utara, Indonesia.
- Saya, mas Welly dan Agung.
- Saya dengan pengemudi Perahu Tempel (perahu kecil yang digunakan untuk survey).
- Potret desa tetangga Matabulu, 45 menit perjalanan
- Jalan Bambu Gantung, mejadi alternatif akses akibat banjir.
- Kampung nelayan, 2 desa setelah Matabulu
- Pemandangan laut saat perjalanan dimulai
- Titik-titik longsong akibat hujan besar selama 2 hari tanpa berhenti, bukit2 ini lah yang merupakan “Bukit Emas”
- Di teluk ini lah dilakukan penangkaran karang mutiara
- Pantai desa Sebelah
- Ujung Desa, pemandangan Teluk Matabuludari dari atas bukit Tanjung Matabulu
- Di teluk ini lah dilakukan penangkaran karang mutiara
- potret pemandangan tanjung dikala perjalanan
- Pemandangan desa dan teluk Matabulu dari dermaga tempat kami menginap
- Di teluk ini lah dilakukan penangkaran karang mutiara
- Tanjung dan teluk yang berada di desa lain, pesisir sulawesi utara





















Pekerjaan yang menarik nih Mas. Kerja sambil mengeksplorasi alam itu keren banget
Memang, perkerjaan ini memberi banyak pengalaman berharga mba, dan menurut saya istilah “Indonesia negara KAYA” itu memang benar adanya.
cuma satu yang ga tahan kalau kerja ginian…jadi hitam… :p
haah? jadi hitam? :kagets:
bukan nya emang udah hitam duluan :p
Wah baguuuuus
HAi sha2, iya bagus…tapi masih kalah lah sama negeri sakura. hoho
No no no, pemandangan Indonesia itu lbh bagus dr sini. Bedanya, di sini dikelola dg baik dan teratur, dan yg utama: bersih.
Yep, tinggal pengaturan.
ada ga sih cewek yang di tugas kan kerja kek gitu ? :-/
Bisa aja kok, tinggal kuat ga nya aja.
Terima kasih atas pujiannya. semoga keindahan desa kami (Matablulu) akan tetap bertahan tanpa menjadi makanan empuk bagi para investor.
Salam kenal..saya Rahmi dari pesisir Matabulu
Sama2 mba Rahmi, suatu kepuasan bagi saya bisa mengenal kampungnya mba.